Bahaya Riba KPR Konvensional

Kebutuhan akan kepemilikan rumah adalah hal yang tidak bisa dihindarkan dalam kehiduoan masyarakat. pemenuhan hajat ini termasuk pemenuhan hajat primer masyarakat. Namun untuk memenuhinya tidaklah mudah karena faktor keterbatasan tanah dan bahan bangunan yang implikasinya adalah mahalnya harga rumah bagi sebagian masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut muncullah solusi kredit kepemilikan rumah yang lazim  disingkat dengan KPR. Keberadaan program ini memang satu sisi membantu masyarakat untuk bisa memiliki rumah pribadi dengan cara mencicil atau kredit. Walau demikian program ini masih memiliki kelemahan dari sudut Syariah Islam. Dari sudut pandang Islam KPR memiliki bahaya-bahaya laten yang siap mengancam siapa saja sewaktu-waktu, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia konsumen yang gagal bayar akan terkena dampak yang sangat berat seperti tagihan semakin besar dikarenakan adanya denda, gagalnya alih kepemilikan rumah karena adanya akad yang tidak jelas dan lain-lain. Tulisan berikut akan menjelaskan Bahaya Riba KPR Konvensional bagi pembeli rumah. Dengan memahami tulisan ini diharapkan dapat mencegah para pembeli kecewa dan lolos dari akad-akad Riba KPR Konvensional dan segera beralih ke KPR yang sesuai Syariah, yang akan menjamin hak-hak pembeli dan melindungi kepemilikan pembeli. Berikut adalah Bahaya Riba KPR Konvesional yang bisa kami sampaikan:

1. HARAMNYA AKAD SEWA BELI
Terdapat 2 akad yang dirangkap dalam 1 akad sekaligus. Yakni akad Sewa dan akad Beli yang lazim disebut akad Sewa Beli. Dimana bila Kreditur dalam cicilannya terjadi kemacetan (tidak mampu meneruskan pembayaran cicilan) Kreditur dianggap sebagai Penyewa rumah dan uang cicilan selama ini dianggap sebagai uang sewa rumah yang tidak wajib dikembalikan oleh pihak Bank. Sedangkan kalau lunas pembayaran kreditnya, maka Kreditur dianggap sebagai Pembeli. Ini haram berdasarkan hadits Rasulullah:
Abu Hurairah ra yang berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ

“Rasulullah saw melarang dua jual-beli dalam satu jual-beli” (HR. An Nasa’i)

Juga apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra yang berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ صَفْقَتَيْنِ فِيْ صَفْقَةٍ وَاحِدَةٍ

“Rasulullah saw melarang dua akad dalam satu akad” (HR. Ahmad)

2. HARAMNYA RIBA INAN
Riba sendiri dibagi menjadi 4 macam: riba nasiiah (riba jahiliyyah), riba fadlal, riba qaradl, dan riba yadd. Berikut penjelasannya:

  1. Riba Nasii`ah. Riba Nasii`ah adalah tambahan yang diambil karena penundaan pembayaran utang untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah tambahan itu merupakan sanksi atas keterlambatan pembayaran hutang, atau sebagai tambahan hutang baru seperti: Si A hutang pada si B, B memberi ketentuan bila dlm tempo 1 bulan A tidak bisa memngembalikan sesuai kesepakatan maka A dikenakan tambahan pembayaran hutang atau lazimnya saat ini disebut sangsi.
  2. Riba Fadlal. Riba fadlal adalah riba yang diambil dari kelebihan pertukaran barang yang sejenis. Kalau jaman dahulu kita mengenal yang namanya barter atau pertukaran barang, yang dilarang disini adalah misal si A punya satu kilo jeruk nipis dan si B punya 1 buah jeruk sunMoon (jeruk Belanda yang harganya mahal), kedua orang ini bisa dikatakan Riba jika menukar jeruk nipis dan jeruk sunMoon karena barangnya sejenis tapi tidak sebanding kualitasnya, namun jika si A menjual jeruk nipisnya, lalu uang penjualannya dipakai untuk membeli jeruk si B, maka itu diperbolehkan.
  3. Riba al-Yadd. Riba yang disebabkan karena penundaan pembayaran dalam pertukaran barang-barang. Dengan kata lain, kedua belah pihak yang melakukan pertukaran uang atau barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima. Contoh si A dan si B mau bertukar handphone yang jenisnya sama, tapi saat akad terjadi,si B tidak membawa handphonenya karena masih dibawa adiknya, sehingga harus menunggu sore nanti saat adiknya pulang kerumah, maka si A dilarang untuk menyerahkan HP nya kepada si B sampai si B mampu menunjukkan HP nya.
  4. Riba Qardl. Riba qaradl adalah meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan yang harus diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman. Ini mungkin hampir sama denan Riba Nasii’ah, contoh si A mengembalikan uang yang dipinjamnya kepada si B, namun oleh si A ditambahi dengan membawakan rokok untuk si B, maka si B dilarang untuk menerima pemberian rokok dari si A tadi dengan alasan apapun, kecuali si A tadi memberikannya di lain hari dan tidak ada hubungannya dengan pembayaran utang.

Allah SWT sudah berfirman “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [QS. Al Baqarah: 275].

Facebook Comments
This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro
Pages:
Edit