Desain Ruang Tamu Sesuai Syariah

Desain Ruang Tamu Sesuai Syariah

Desain Ruang Tamu Sesuai Syariah

Islam sebagai syariat yang sempurna sangat memperhatikan segala urusan manusia. Islam mengatur bagaimana interaksi antar individu di tengah masyarakat. Demikian juga masalah interaksi antara tamu dan tuan rumah. Hal ini berkonsekuensi desain ruang tamu tidak bisa sembarangan asal buat. Desain ruang tamu harus sesuai dengan syariat Islam. Bagaimana Desain Ruang Tamu sesuai Syariah?. Pada tulisan kalli ini kita akan bahas Bagaimana Desain Ruang Tamu sesuai Syariah? Silahkan membaca semoga bermanfaat.

Sebelum membahas lebih jauh ada baiknya kita harus ketahui cara pandang Islam terhadap macam kehidupan sosial ditengah masyarakat. Kehidupan sosial masyarakat secara garis besar di dalam Islam dibagi menjadi 2 wilayah.

  1. Wilayah Umum, dimana diperbolehkan manusia bercampur anatar laki dan perempuan tetapi dengan aturan-aturan yang ketat dan di dalam wilayah ini tidak diwajibkan mengucapkan salam sebagai tanda izin untuk memasukinya, seperti: Pasar, stasiun kereta, jalan raya, lapangan dan lain-lain.
  2. Wilayah khusus, kebalikan dari wilayah umum. Di dalam wilayah ini terdapat kehidupan rumah tangga dimana komponen rumahtangga paling dasar yakni suami dan istri berada di dalam wilayah tersebut. Pada wilayah ini selain penghuni diwajibkan mengucapkan salam bila hendak memasukinya sebagai tanda minta izin kepada si pemilik tempat, seperti: rumah tempat tinggal, kamar hotel yang disewa keluarga, mobil pribadi dan lain-lain.

Pada kesempatan ini kita akan bahas bagaimana menata ruang tamu yang benar menurut Islam. Ruang tamu adalah daerah interval antara kehidupan umum dan kehidupan khusus. Sebenarnya ruang tamu telah masuk dalam kehidupan khusus terbukti untuk memasukinya sang tamu wajib mengucapkan salam, bila tidak dijawab 3 kali, maka sang tamu harus meninggalkan rumah tersebut dan tidak memaksa untuk masuk. Sebagaimana Firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27)

Dan sabda Rasulullah saw:

عن أبى موسى الاشعريّ رضي الله عمه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلم: الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi ruang tamu adalah tempat orang-orang asing dari wilayah umum bisa mengakses ke dalam rumah dimana wilayah kehidupan khusus berada. Untuk itu ruang tamu mendapat perhatian khusus dalam syariat karena menjadi tempat berinteraksinya penghuni rumah dengan orang lain selain penghuni rumah. Adapun ketentuan tersebut bisa kita bahas dalam pembahasan di bawah ini.

 

  1. Tamu Tidak Boleh Melihat Aktivitas Penghuni Rumah Di Ruangan Lain.

Islam sangat menjaga kehormatan anggota keluarga dari pandangan liar orang-orang asing. Maka aktifitas penghuni rumah tidak boleh terlihat oleh tamu, hal ini sangat berkaitan erat dengan ketentuan batas-batas aurot bagi wanita antara di dalam rumah dan di luar rumah. Hal ini bisa kita lihat dari larangan Rasulullah melakukan aktifitas melihat kehidupan khusus tanpa seizin penghuni rumah.

لو أنّ امرأ اطلع عليك بغير إذن فخذفته بحصاة ففقأت عينه لم يكن عليك جناح

“Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

Dalam hal ini bila mengintip saja tidak diperkenankan bagaimana kalau melihat terang-terangan tanpa malu.

 

  1. Memisahkan Tempat Duduk Tamu Laki-laki dan Perempuan

Hukum asal laki-laki dan perempuan adalah terpisah, maka tidak diperkenankan berinteraksi laki-laki dan perempuan tanpa izin syar’i atas aktifitas tersebut. Dengan demikian dalam menerima tamu laki-laki dan perempuan harus dipisahkan tempat duduk antara tempat duduk laki-laki dan tempat duduk perempuan. Lebih utama bila ada kelonggaran ruang hendaknya dibuatkan ruang khusus untuk menerima tamu perempuan. Namun bila tidak ada ruangan khusus karena terbatasnya tempat maka memisahkan tempat duduk laki-laki dan perempuan adalah hal yang bisa dilakukan. Untuk memperdalam hal ini ada link bagus yang bisa dipakai sebagai referensi silahkan klik di sini.

 

  1. Memulyakan Tamu.

Di dalam Islam aktifitas memuliakan tamu adalah termasuk ke dalam aktifitas yang sangat dimulyakan. Sebagaimana sabda rasulullah saw:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Aktifitas memuliakan tamu dikaitkan dengan keimanan pada Allah dan hari akhir, hal ini menunjukkan kemulyaan aktifitas ini. Artinya bagian dari cabang keimanan adalah memulyakan tamu. Logikanya barangsiapa yang tidak memulyakan tamu akan rusak keimanannya.

Memulyakan tamu ialah melayani kebutuhan tamu selama ia menjadi tamu di rumah kita, meliputi mengusahakan terwujudnya hajat utama tamu terhadap kita dan kebutuhan hidup tamu selama di rumah kita, seperti kebutuhan makan, minum, istirahat mandi dan lain-lain, khususnya tamu yang menginap di rumah kita. Bila kita memiliki ruangan lebih ada baiknya disediakan kamar khusus untuk tamu yang terpisah dari kehidupan keluarga. Kamar khusus untuk tamu bisa terpisah dari bangunan utama atau menyatu dengan bangunan utama asalkan tetap tidak bisa mengakses langsung ke dalam kehidupan keluarga.

Tamu baik itu berasal dari kerabat atau selain kerabat tetap tidak diperkenankan untuk mengkases kehidupan keluarga atau penghuni selama memang tidak ada alasan yang dibenarkan syariat. Bagaimana bila rumahnya sempit dan tidak ada ruang tamu khusus? Dalam hal ini berlaku hukum darurat diperbolehkan menggunakan ruangan lain dengan tetap memperhatikan batas-batas syariat dalam menerima tamu, seperti tetap menutup aurot dan menjaga agar tidak terjadi campur baur laki perempuan yang tidak perlu.

Bila ada rejeki lebih ada baiknya termasuk dalam aktifitas memulyakan tamu adalah dengan mendesain ruangan tamu seindah mungkin dan senyaman mungkin bagi tamu, misalnya dengan cat yang sejuk dan memasang AC bila perlu, juga memberi wangi-wangian. Dengan demikian tamu merasa dimulyakan dan senang berada di rumah kita. Tentu dalam hal indah tidak bermaksud untuk menganjurkan dalam bermegah-megahan dan bermewah-mewah yang nantinya jatuh pada sifat kesombongan. Indah dan nyaman bagi tamu tidak identik dengan kemewan dan kemegahan.

 

  1. Menjauhkan Diri Dari Kemusrikan dan Fitnah

Ruang tamu adalah etalase jati diri kita dan keluarga seperti apa yang kita bangun. Biasanya ruangan tamu didesain sedimikian rupa penuh dengan pernak-pernik yang melambangkan siapa kita. Bagi seorang muslim yang taat ruangan tamu harus steril dari benda-benda pajangan yang haram dalam Islam, seperti patung dan gambar atau lukisan benda-benda bernyawa (manusia dan binatang). Sebagai gantinya lebih elok bila kita beri hiasan rumah tamu dengan lukisan kaligrafi dari ayat-ayat Allah yang semakin menambah keimanan penghuni rumah dan tamu yang membacanya. Dan untuk tamu non muslim bisa menjadi sarana dakwah bagi mereka. Dalam memajang kaligrafi perlu diingat untuk berhati-hati dan menseleksi jangan sampai kita memajang kaligrafi dari rajah-rajah tolak bala, aji-aji keselamatan yang biasanya ditulis dalam huruf arab. Hati-hati ini bisa mengundang syetan dan jin. Memajang foto-foto keluarga sebenarnya hukumnya boleh karena hukum foto tidak sama dengan hukum lukisan. Yang diharamkan adalah lukisan atau gambar hasil karya tangan manusia. Sedangkan foto adalah bayangan yang diabadikan. Jadi status foto sama dengan bayangan di cermin, jadi sifatnya boleh. Walaupun boleh harus diberikan syarat tidak membuka aurot dan tidak menjadikan fitnah. Seperti bila tamu melihat wajah canti istri tuan rumah ini menjadi satu hal yang haram, karena bisa menimbulkan fitnah. Maka saran penulis hendaklah tidak memajang foto-foto yang menyebabkan fitnah bagi tamu.

 

  1. Memberi Tanda Bel

Hal ini penting karena tamu dilarang langsung bisa mengakses ke dalam rumah, maka dengan teknologi bel akan memudahkan tamu untuk meminta izin. Apalagi bila anda memiliki rumah yang tergolong besar dan berpagar, maka memberi tanda bel untuk izin mengkakses rumah anda bisa jadi menjadi hal yang penting. Dapat pula melengkapi dengan CCTV sehingga kita tahu siapa tamu yang datang. Apakah tamu itu bisa kita terima atau tidak kita bisa antisipasi lebih dini.

Baca Juga Jasa Bangun Rumah Sesuai Syariah

Sedikit belajar dari rumah-rumah zaman dahulu, bagaimana nenek moyang kita menerima tamu tanpa harus mengakses rumah. Di beberapa daerah tempat menerima tamu ‘jauh’ dari rumah. Biasanya terpisah dari bangunan Induk. Seperti yang dijumpai oleh penulis di kepulauan Bawean penduduk di sana menerima tamu di tempat terpisah semacam saung atau gazebo yang mereka namakan ‘Durung’. Di beberapa daerah lain tuan rumah menerima tamu di musholla keluarga seperti di daerah Madura. Dan di beberapa daerah lain di terima di balai-balai rumah.

Demikia bagaimana mendesain ruang tamu yang benar sesuai syariah islam, semoga bisa memberi manfaat bagi semua. Amin

Facebook Comments
This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro
Pages:
Edit